Asyiknya Bocah Korban Penggusuran Rawajati Saat ‘Nyate’ Daging Kurban

Posted on

Anak-anak korban penggusuran Rawajati, Jakarta Selatan, berkumpul di satu tenda. Dengan modal alat alakadarnya mereka mebujat sate daging kurban yang didapatnya.

Batu bata sisa penggusuran mereka susun menjadi tungku pembakaran. Sebagai bahan bakarnya, mereka ambil kayu-kayu sisa dari puing sisa bangunan yang tergusur.

Tanpa minyak tanah, mereka gunakan plastik sebagai pemancing api agar mudah membakar kayu-kayu.

“Tadi kita bertiga yang nyalain apinya. Kita nggak pakai minyak tanah. Tadi kita pakai plastik biar nyala,” ujar Rivaldo Ramadhan, bocah kelas 4 SD di Rawajati, Jakarta Selatan, Senin (12/9/2016).

Bersama temannya, Tegar Dwi Prasetyo, kipas terus digoyang-goyangkan hingga api membakar daging.

“Saya sudah abis empat tusuk tadi,” kata Tegar yang masih kelas 6 SD ini.

Sementara teman yang lain asik mengerumuni. Ada yang ikut mengipas sate, ada juga yang bermain-main. Ketika kereta melintas, mereka menghadap ke rel. Masing-masing pasang gaya, ada juga yang sambil berteriak girang.

“Woi, woi, woi,” teriak salah satu mereka.

Tak ada yang berebut. Di antara mereka ada yang langsung menyantap sate yang terlihat sudah matang.

“Satenya enak kok. Tadi satenya ada yang mateng, ada juga yang gosong,” ujar Fatan yang sedang menyantap sate. Teman yang lain pun teriak meminta.

“Bagi dong yang udah mateng,” timpal Tegar.

Aktivitas mereka menarik perhatian orang dewasa. Sepiring penuh daging yang sudah ditusuk dan dibumbui kecap mereka bawa ke tenda. Yang lainnya ada juga yang datang.

“Daging apa itu?” tanya Ade.

“Daging sapi,” jawab Indra.

“Yah, kalo daging sapi mah alot,” tanggap Ade.

“Ada nih daging kambing, Bang. Tapi belum ditusukin,” kata Ade sembari menyodorkan satu plastik daging.

Kini tungku sudah diambil alih. Bocah-bocah jadi asyik bermain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *