Dear Jodoh..

Hai.. Bagaimana kabarmu saat ini? Baik-baik ya disana, dimanapun, dan dengan siapapun. Iya dengan siapapun. Mungkin (bisa jadi) saat ini kamu sedang dijaga oleh perempuan yang mencintaimu tapi tidak ditakdirkan menjadi pendampingmu. Atau bahkan masih sedang dalam masa penantian yang sama sepertiku? Ah apapun itu aku berharap kamu selalu menjadi lelaki baik yang kelak akan bersanding denganku.

Hai.. Aku menunggumu, dalam penantian yang entah sampai kapan aku juga tak pernah tahu. Menunggu dengan segala harapan terbaik ketika bertemu nantinya.

pasangan-jodoh

Berbahagialah selalu, namun jangan lupa juga untuk mendewasa. Karena aku pun begitu, sendiri di sini, menanti, dengan beragam proses hidup yang (aku yakini) membuatku makin kuat untuk menantang kehidupan ini, pun tak pelak membuatku mendewasa.

Hai.. Tahukah kamu, sembari menunggu aku berkutat dengan konsep “memantaskan diri” agar aku benar-benar menjadi perempuan yang membuatmu bangga. Jelas.
Tapi, ahh sejujurnya.. Semakin aku menuntut diriku semakin aku takut jika tidak bisa menjadi pantas untukmu. Maaf. Maukah kamu menerima maafku? Aku berjanji aku akan menjadi pantas untukmu karena proses hidup yang akan mengajarkanku seperti itu.

Aku penasaran, apakah di sana kamu juga berusaha demikian? Atau? Ah sudahlah aku mempercayaimu. Aku mempercayai takdir Tuhan yang tak pernah salah memberimu untukku.

Hai.. Boleh aku merindumu? Lucu ya, memang. Rindu sosok yang akupun tak pernah tahu seperti apa. Tapi mohon mengertilah, kadang aku emmang merindumu. Ingin sekali rasanya memaksa Tuhan untuk segera dipertemukan olehmu. Tapi siapa aku yang berani memaksa Tuhanku.

Yasudahlah.. Aku coba mengerti. Mungkin ini cara Tuhan menambah tingkat sabarku. Aku akan mengerti, dan menerima. Satu lagi proses yang membuatku mendewasa.

Apakah kamu bertanya mengapa aku merindu? Maaf terkadang aku hanya lelah dengan segala proses kehidupan yang dituliskan Tuhan dalam skenarioNya. Bukan berarti aku menyalahkan Tuhan mengenai hidupku.

Aku hanya ingin ditenangkan, dikuatkan. Tentu olehmu. Aku hanya ingin ada yang memengang tanganku erat dan memastikan dengan seluruh keyakinannya bahwa semuanya akan baik-baik saja karena ada kamu bersamaku. Angan yang sederhana bukan?

Baiklah lupakan. Yakinku suatu saat pasti akan terjadi demikian. Mungkin bukan sekarang dan oke aku mengerti. Dan menanti, lagi. Namun bukan berarti aku hanya membutuhkanmu disaat aku luka dan lelah. Percayalah, aku juga ingin berbagi tawa bersama.

Hai.. Kata orang menanti itu bukan hal menyenangkan. Ya memang, aku setuju. Tapi aku coba menikmatinya, walau terkadang merindu. Maaf.

Jujur aku penasaran bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Dimana?

Kapan?

Seperti apa?

Ah biarlah itu tetap menjadi rahasia dari skenarioNya yang akan kita lakoni. Menebak hanya akan membuatku menjadi tak sabar.

Jika seseorang sudah ditakdirkan untukmu, maka dia tak akan pernah menjadi milik orang lain. Kamu harus tahu bahwa kamu tidak pernah mendapatkan apa yang tidak ditakdirkan untukmu (Imam Ali A.S)

Doaku dalam diam semoga kamu tumbuh menjadi lelaki hebat dengan sejuta tanggungjawab serta jiwa penyayang yang lekat di hatimu. Tenang, aku bukan wanita penuntut yang suka memaksa. Itu hanya harapku. Selebihnya aku peraya takdir Tuhan tak pernah salah. Semoga Tuhan akan selalu menjagamu baik-baik, mendewasakanmu juga tentunya.

Sampai bertemu di saat yang tepat. Biar waktu tetap menjadi misteri untukmu dan untukku.