Hasil Jualan Koran, Pria Ini Mampu Beli Rumah Mewah, Ruko, Lahan 6 Hektar, Ladang, Mobil Dan Kuliah

Posted on

“Silakan, ambil korannya Pak. Ini satu tambah Tribun Medan, dua koran jadi Rp 5.000. Maaf, tidak kembalian seribu, ya.”

SAMBIL melayani pembeli, menyodorkan dua eksampelar surat kabar harian, tangannya tetap sibuk menyisipkan koran-koran di hadapannya. Ia memasukkan eksemplar demi eksemplar halaman dalam koran ke halaman depan atau sampul utama koran serupa.

merdeka.com

Laki-laki paruh baya tersebut, bertubuh kira-kira 175 cm, perut agak membuncit, dan perawakannya besar. Ia sigap melayani para pembeli surat kabar, majalah atau tabloid. Ia duduk di bangku plastik, menghadapi tumpukan koran di atas meja di trotoar. Di belakangnya juga ada koran berbagi merek terganjung pakai jepitan besi, yang dikaitkan ke paku di dinding.

Dia adalah Sakeus Sembiring Pelawi, agen tunggal koran dan majalah S Pelawi di Jalan Kapten Bangsi Sembiring, Desa Laucimba, Kecamatan Kabanjahe Kota, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Pengamatan Tribun Medan/Tribun-Medan.com, Selasa (1/8) sekitar pukul 08.10 WIB -09.15 WIB, Sakeus melayani pembeli yang datang silih berganti. Ia mengenakan kaus lengan pendek warna abu-abu, dan celana warna gelap.

Sakeus bekerja rata-rata setengah hari, pukul 06.00 WIB-12.00 WIB. Ia mendistribusikan belasan ribu eksampelar koran setiap hari. Ia mempekerjakan 34 orang loper, yang memasarkan media massa cetak sampai ke desa-desa di Kabupaten Karo, termasuk di kaki Gunung Sinabung, yang sejak 2010 terus-menerus erupsi, memuntahkan bahan vulkanik dari perut bumi.

“Bekerja enam jam sehari, penghasilan cukup dapat diandalkan untuk hidup. Penghasilan rata-rata Rp 15 juta-Rp 20 juta per bulan,” ujar Sakeus. Tribun Medan bertanya ulang, “Rata-rata 15 juta sampai 20 juta tiap bula?” Ia menandaskan jawaban, “Iya. Itu penghasilan bersih.”

Ayah dua perempuan tersebut mengaku, jualan koran masih sangat layak ditekuni. Ia terjun langsung ke bisnis distribusi eceran koran sejak 17 tahun silam, melanjutkan agen koran, bisnis yang dirintis S Pelawi dan N beru Milala, orangtuanya.

Baca Juga: Pedagang Roti Bakar Ini Tidak Bisa Mendengar dan Bicara, Ini Caranya Berjualan

“Sebenarnya sejak kecil, saat usia enam tahun, saya sudah bantu ayah jualan koran. Saat itu, saya masih SD,” katanya. Setelah menempuh pendidikan tinggi, Sakeus pernah berkeja di bank yang beroperasi di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.

Karier tertinggi yang sempat dia raih adalah Kepala Seksi Bank Danamon di Jalan Otto Iskandar Dinata, Bandung. Ketika ayahnya mulai sakit-sakitan, ia memutuskan meninggalkan profesi bankir dan kembali ke Kabanjahe.

“Kita tahu kerja kantoran, itu-itu saja bukan. Kerja di bank misalnya, dalam setahun semua pekerjaan sudah dapat kita kuasai. Jadi bosan juga kerja di bank. Namanya karyawan, punya bos di kantor jadi terikat, tidak bisa sebebas ini ngobrol, sambil ngopi sambil kerja. Karena bosan, dan orangtua sakit-sakitan, saya teruskan usaha ini,” ujar Sakeus, yang punya istri seorang wanita polisi berpangkat Komisaris Polisi, tugas di Bidang Bimbingan Masyarakat Polda Sumut. Penghasilan mereka lebih dari cukup, untuk ukuran orang biasa.

Ia telah membeli rumah lumayan di kompleks Villa Zeqita Residence Jalan Jamin Ginting, Medan. Kemudian rumah toko (ruko) di Jalan Flamboyan Raya, Medan, beberapa lahan perladangan dan lahan enam hektare di seputar Kabupaten Karo. “Semua rupiah itu didapat dari koran. Jangan dilebih-lebihkan, bukan bermaksud sombong, karena memang ada, itu semua hasil dari jualan koran,” katanya.

Sakeus bercerita, lima tahun silam, keluarganya membeli rumah di salah satu kompleks terbilang elite di Jalan Jamin Ginting, Medan, seharga Rp 1,2 miliar. “Kami mencicil, dan sekarang sudah lunas. Mungkin harganya sekarang Rp 3 miliaran,” ujarnya.

Dua putrinya kini tengah menempuh pendidikan. Si sulung mengikuti perkuliahan di Institiut Teknologi Bandung (ITB), dan bungsu duduk di bangku Kelas II SMA swasta di Medan.

Bisnis yang ditekuni Sakeus menerapkan prinsip saling menguntungkan. Bahkan, dia punya prinsip memakmurkan para pengecer koran atau loper. Keuntungan penjualan lebih besar diberikan kepada 34 loper dalam jaringannya, yakni rata-rata Rp 1.000 per eksampelar koran.

Dalam praktiknya, harga koran yang bandrol Rp 3.000, kecuali Tribun Medan  Rp 1.000, harga jual di Kabanjahe rata-rata Rp 4.000 per eksampelar, sedangkan di pedesaan mencapai Rp 6.000 per eksampelar.

Setiap loper dibatasi jatah rabat atau retur maksimal lima persen. Contoh, loper membawa 100 koran, wajib terjual 95 dan sisa tidak terjual yang dapat dikembalikan ke agen, maksimal lima eksampelar.

Sakeus tidak melulu menceritakan tentang sukses. Ia juga menyinggung risiko bisnis koran.

Halaman=> 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *