http://sahabatmkaa.com

Ki Hadjar Dewantara: Nakal Harus, Goblok Jangan

Posted on

Masih ingatkah dengan sosok Pahlawan yang tanggal lahirnya dijadikan sebagai hari Pendidikan Nasional? Ya, beliaulah Ki Hadjar Dewantara. Pahlawan yang memiliki andil besar terhadap pendidikan di Indonesia dengan sekolah Taman Siswa yang pernah beliau dirikan semasa hidupnya.

http://sahabatmkaa.com
http://sahabatmkaa.com

Dear Bung Hadjar,

Situ keren, Bung! Bikin sekolah Taman Siswa, tapi siswa-siswa kumunis boleh ikut belajar dan dapat ijazah resmi pula. Anak situ sendiri juga bebas memilih jadi wartawan amplop kanan atau kiri; dan Bung menerima dengan lapang dada saat akhirnya pilihan anak jatuh menjadi jurnalis kominis.

Situ bahkan dengan selo-nya nerjemahin lagu “Internasionale” yang na’udzubillah itu ke dalam bahasa Indonesia. Lebih kaffah lagi, situ jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama setelah Indonesia Merdeka. Dan kafah di atas kafah, eh, tanggal kelahiran Bung diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Enak betul di zaman Bung, kami yang ngenes: kami peringati Bung tanpa mata pelajaran marxisme, tanpa palu arit, tanpa internasionale.

Tapi kan hari ini bukan Hari Pendidikan Nasional? Bung betul, ini memang bukan hardiknas, tapi masih di pekan Ultah Mojok, dan jarak antara hari pendidikan dan Hari Mojok hanya 118 hari jarak cinta.

Baca Juga: Perut yang Lapar Lebih Berbahaya daripada Kebangkitan Komunisme

Di hari pendidikan, mulai dari menteri, guru, hingga awamnama menghapal betul tiga ajaran sakti Bung: Tut Wuri Handayani – Ing Ngarso Sun Tulodo – Ing Madyo Mangun Karso.

Di Pekan Mojok ini, izinkan saya dan jutaan orang yang sepaham dengan mojokisma untuk tak latah mengulangi lagi tiga kalimat bijak yang itu-itu saja, tapi petuah Bung yang lain, yang jarang dikutip, dan tentu saja lebih relevan dengan Hari Mojok. Kutipan yang ini, Bung: Ngandel, Kendel, Kandel, Bandel.

Jabat tangan erat, Bung!

Bung kira-kira mau bilang, manusia mojokisma itu mestilah manusia yang ngandel, manusia yang penuh percaya diri, bukan peragu. Tapi percaya diri dan rasa yakin saja tak cukup dalam melayari hidup yang beronak berduri-duri, tapi juga harus diikuti sifat kendel, sikap berani dan patriotik. Menulis status garang menyerang presiden, eh pas dilaporkan ke Polres setempat terus ngeles dengan lutut yang bergetar hebat. Ujug-ujug bilang khilaf. Berani dengan rasa percaya diri mestilah sejalan. Kalau nggak, hanya berakhir antiklimaks, goblok.

Halaman=> 1 2 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *