Sok Hebat Saat Membegal Pakai Pedang, Tiga Pelajar SMP Ini Menangis Ketika Ditangkap

Posted on

Disaat rekan-rekannya sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian sekolah, ketiga sekawan yang merupakan pelajar kelas IX di SMP Negeri dan Swasta berinisial MS (16), AJ (16) dan IK (14) ini justru melakukan aksi kejahatan dengan membegal pelajar lainnya menggunakan senjata tajam jenis pedang dan pisau.

Bahkan dalam aksinya mereka tanpa basa-basi langsung melayangkan bogem mentah serta mengancam akan menusuk korban Melani (16) apabila tak menyerahkan hanphone jenis tablet miliknya.

Aksi pembegalan berlangsung pada Rabu kemarin di sebuah pos kamling di Bukit Darat Gang Selu Sekip Palembang.

Pada kejadian, korban Melani yang saat itu tengah asik nongkrong bersama rekannya Ramadan (14) didatangi oleh ketiga pelaku.

Para pelaku yang tiba menggunakan sepeda motor tanpa banyak bicara langsung memukul Melani. Bukan tanpa perlawanan antara korban dan pelaku sempat terlibat aksi saling pukul.

Lantaran diancam bakal ditusuk pakai sajam mental korban pun menciut sehingga merelakan hanphone kesayangannya seharga Rp 3 juta raib dibawa kabur.

Namun aksi sok jagoan ketiga pelaku ini berbanding terbalik ketika mereka berhasil diamankan oleh tim Tekan Satreskrim Polresta Palembang, Kamis usai mengikuti ujian sekolah.

Kesan sangar hingga memngancam bakal menusuk korban menggunakan sajam tak nampak terlihat. Ketiga Anak Baru Gede (ABG) ini justru menangis ketakutan minta dilepaskan.

Dengan posisi tangan diborgol mereka merengek kepada petugas bahwa menyesal melakukan aksinya dan minta ingin dibebaskan.

Dihadapan petugas, sambil menangis mereka bertiga mengaku menyesal telah melakukan aksinya terhadap Melani pada M Melani (16) pelajar SMP yang sedang nongkrong dengan temannya Gilang Ramadhan di pos kamling, Gang Selu, Kecamatan Kemuning Palembang pada, Rabu kemarin.

MS mengatakan,ia melakukan aksi nekat itu lantaran terhimpit kebutuhan untuk membayar uang perpisahan di sekolahnya sebesar Rp 125 ribu.

Karena tak memiliki uang untuk mengikuti perpisahan lalu ia terpaksa melakukan aksi begal tersebut.

“Orangtua saya hanya tukang becak, beliau tidak punya uang bayar perpisahan jadi terpaksa saya ikut melakukan aksi itu bersama teman-teman,” ujarnya sembari menyeka air mata.

Halaman=> 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *