Wanita Ini Pengacara Khusus Bagi Orang Kaya yang Ingin Bercerai, Bayarannya Mahal Sejam Rp 13 Juta

Posted on

Jika Anda pernah mendapati suami atau istri Anda tengah berbicara dengan Ayesha Vardag, Anda harus panik.

Vardag yang glamor adalah salah satu pengacara perceraian paling banyak dicari dan paling terkenal.

 

Dengan julukan “diva perceraian”, perempuan berusia 49 tahun itu membantu “individu dengan nilai net yang sangat tinggi” guna mendapat kesepakatan pemisahan harta terbaik saat pernikahan mereka berakhir.

Firma hukumnya, Vardags, memiliki kantor pusat di London, dan dia telah melakukan banyak hal yang membuat London mendapat reputasi sebagai “ibu kota perceraian dunia”.

Vardag menarik banyak klien kaya dari seluruh dunia, dan sering ada perebutan antara suami dan istri untuk menyewa jasanya.

“Pasangan yang berpisah sering berlomba untuk mendapat saya untuk mewakili mereka dan bukan sisi lawan,” katanya.

“Benar-benar siapa yang lebih dulu mendapat saya. Kami harus melakukan pengecekan konflik dengan sangat hati-hati.”

Saking terkenalnya reputasi Vardag untuk menang, dia bisa memasang tarif tinggi £795 per jam (atau sekitar Rp13 juta lebih) di luar pajak.

Bahkan, firma hukum Vardags, yang didirikannya sejak 12 tahun lalu, kini memiliki penghasilan lebih dari £10 juta per tahun atau hampir Rp170 miliar.

Di dunia legal yang ketat persaingannya, kesuksesan Vardag tak selalu diterima dengan baik, banyak kritik terhadapnya karena dia dituduh terlalu tertarik dengan promosi diri sendiri, seperti muncul di televisi dan terlalu agresif dalam memperjuangkan kasusnya.

Vardag menjawab bahwa dia menyadari pentingnya menjaring jejaring dan sebagian orang tak suka pada perempuan yang membela dirinya sendiri.

“Saya selalu sopan dengan sisi lawan tapi cukup berani saat litigasi,” katanya.

“Saya tidak menyerah atau goyah dan sebagian orang masih belum terbiasa melihat perempuan melakukan itu.

 

 

“Saya blak-blakan dan berusaha keras…dan saya menuntut tempat saya di meja perundingan. Sebagian orang menganggap itu intimidatif, dan saya bertanya apakah ada elemen seksisme di situ.”

Lahir di Oxford dengan ibu Inggris dan ayah Pakistan, Vardag tumbuh besar tanpa mengenal ayahnya setelah dia kembali ke Pakistan saat Vardag masih kecil.

Dibesarkan oleh ibunya, Vardag mendapat nilai yang bagus di sekolah dan belajar hukum di Cambridge.

Halaman=> 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *